Yang ternyata kehidupan ini adalah sebuah masalah. Pembelajaran-pembelajaran dari keraguan-keraguan mendasar, dan cara berpikir mendasar, mencoba mencari solusi paling mendasar. Tanpa percobaan atau praktek. Namun, dari mana datangnya solusi, jika yang ada hanya masalah? Logika. Ketika fenomena masalah sudah menjadi tuntutan agar pemecahan dapat dijadikan solusi. Pemikiran, karena jika solusi datang dari argumentasi “menurut” dan alasan-alasan yang “saya” berikan. Bukankah akan sangat mudah jika kita juga mengutarakan menurut “kita” dan cara-cara yang “mereka” ajukan? Kalau saja semua pemecahan hanyalah otak-atik kata, yang tentu dihasilkan dari studi pemikiran. Apakah ada yang disebut dengan pencipta solusi? Pemikir? Walau sebenarnya juga akan merasa salah, jika menggunakan kata-kata “mencipta”. Menjurus langsung kepada Tuhan. Eksistensi, bukankah kita sudah terlalu bebas berpikir? Jika kita memang dibebaskan untuk berpikir, menggunakan dengan maksimal yang kita sebut dengan “akal”. Apakah tujuan sebenarnya dari kebebasan akal ini? Kalau memang arti dari sebuah solusi adalah rasa. Mengapa harus dengan cara yang ternyata menjurus kepada ketidakmampuannya kita untuk berperasaan? Saat akal yang bekerja, yang ternyata hanya menciptakan sebuah kata yang pas untuk hidup kita, bukan lagi mencari solusi, namun kepuasan rasa. Itukah alasan sebenaranya? Semua yang biasa disebut pemikiran secara mendasar, adalah bagaimana kita mampu membuat sebuah rasa? Pikir, pikir. Jika kebebasan ini tak ada lagi, kata random, disorder, erratic, atau kata-kata tak beraturanpun akan musnah.
Dan aku sebagai manusia, sebagai seorang yang berjalan penuh dengan keinginan untuk mengetahui apa yang kembali berjalan di sekelilingku. Aku sebagai pertanyaan kenapa dan bagaimana. Aku sebagai seorang yang puas berkata “oooh". Aku yang bebas berkata bahwa inilah yang tebak, dan menyalahkan yang lain. Aku yang menjadi tuhan bagi diriku sendiri. Inikah yang disebut dengan mendasar? Maka tujuh miliar tuhan di bumi ini benar-benar akan mengalami kehancuran. Mungkin hanya tujuh puluh ribu hamba yang memahami bahwa tuhan bukanlah tentang eksistensi, namun peran yang mewakili “eksistensi”. Teriaki aku ketika salah, berikan ujian ketika aku telah siap untuk naik, beri aku masalah saat aku belum mengerti, beri aku solusi sehingga aku tetap pada jalan-Mu.
Jadi, apakah itu Pemikiran Mendasar? Apakah sama seperti petunjuk penggunaan yang telah diterbitkan oleh “Pencipta” kita sebelumnya?
Bukankah manusia tak ada yang sempurna? Meski sudah diciptakan dengan bentuk yang paling sempurna. Namun hanya ada satu bagian yang dapat menyempurnakan semua. Apakah itu kau tanya? Cukup satu.
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 November 2014
Rabu, 04 Juni 2014
Dua, kali.
…
Semuanya berubah, seiring dengan berubahnya lagu yang kudengar. Beats-beats
yang berubah lebih cepat. Menyesuaikan detak jantung yang semakin kencang.
Bergemuruh, awan gelap, tetes-tetes hujan, angin-angin hujan. Aku tetap
bertahan. Dua kali, dua jam menunggu, sia-sia. Semuanya berlalu tanpa
pemberitahuan, tanpa penjelasan. Hati mulai bertanya-tanya, merangkai kembali
kejadian-kejadian sebelumnya. Berusaha mengingat kata-kata yang terlupa―dilupakan,
kata itu lebih tepat. Siapa yang akan menyelamatkanku dalam suasana seperti
ini. Orang-orang juga mempunyai masalahnya sendiri, hanya orang aneh yang
mencari masalah dengan orang lain. Tentu, apalagi mencari masalah denganku ini.
Aku sengaja berjalan di genangan air, kapilaritas mulai membuat sepatuku basah,
menembus kaus kaki panjang itu. Menurunkan payung, berjalan lebih cepat. Peduli
amat dengan hujan, peduli amat dengan teriakan-teriakan sel tubuh, untuk segera
melindungi diri dari dingin. Peduli amat. Sekarang, seluruh tubuhku sedang
dikendalikan penuh oleh perasaan, yah, perasaan itu. Tak ada lagi yang
tersisa, pohon itu, tak lagi terlihat. Aku telah jauh berlari, meninggalkan
semua harapan untuk sekali saja bertemu. Walau untuk terakhir kali. Bingung,
kecewa, khawatir, bercampur semurna dengan desahan lambatku. Dingin.
Satu, belokan ke kanan, melanjutkan sprint ku melawan hujan. Dua ratus
meter sudah kulewati. seratus meter lagi, dan satu belokan ke kiri. Semuanya,
akan kulepaskan, semuanya. Lagi, lagi menabrak satu dua orang. Peduli amat
dengan mereka. Kutambah kecepatanku, kaki ini sudah seperti detakan jantung
yang berderap kencang. Mengalahkan dingin, mengalahkan rasa sakit, yang entah
kenapa, dua kali, tepat dua menit tujuh belas detik setelah dua jam itu.
Semuanya menjadi dua kali lipat. Rasa sakitku, jantung yang tertusuk hampa,
kehampaan. Sebuah pisau yang tak pernah bisa dilihat oleh mereka-mereka itu.
Namun sakitnya, sakitnya. Lima puluh meter lagi. Dua puluh lima meter lagi,
sepuluh meter, lima meter...
“Aaaaarrrrrrrrrrrrrrrrgggghhhh!!!”
Berteriak sekuat tenaga, dua kali. “Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrgggggggghhh!!!” lebih
kencang. Menarik nafas, dua detik. Terduduk, menunduk. Mbelusuk.
Sebuah tangan menepuk pundakku, “Wah, jika
bukan Alif, siapa lagi.”
“Diam
kau!” Seperseratus detik, mengenali bahwa itu suara Diki, nadaku sedikit nyegak.“Tenang
Lif, aku sudah tau bahwa akhirnya akan seperti ini, memang siapa kau? Mengembalikan
barang miliknya saja kau tak berhak.” Sedikit nyengir, dengan wajah mengejek. Ku
belah kaki kananya, terjatuh, meringis. “Sabar Lif, kau kasar sekali
dengan teman!”
Aku
tak peduli.
Danau
bekas galian batu bara ini berisik, hujan semakin deras. Aku tetap enggan
mendengar seruan sel-sel tubuh yang mulai menggigil. Menengadah, menantang
hari, apakah hari ini bisa lebih buruk dari ini. Diki ternyata hebat, selain
hebat dalam hal ejek-mengejek. Ternyata
dia memiliki sebuah anugerah yang tak dimiliki manusia lain. Diam. Setelah
duduk terjatuh karena pukulanku tadi, dia diam. Entah apa yang dipikirkannya. Dua
kali, kali kedua aku merenung di danau ini, sekarang hanya bersama Diki yang
menungguku meneriakkan semua yang tak bisa dirangkai menjadi kata-kata. Sebuah kebiasaan
yang susah ditinggalkan, menceritakkan semuanya kepada alam, dengan satu huruf,
satu suara, satu nafas. Dua kali.
Kemana kau pergi, Ra?
...
Sabtu, 17 Mei 2014
Aku Pulang
Emosi. Akhirnya. Aku selalu lupa apa yang
pernah kukatakan. Bagus, kata mereka. Mudah sekali bagimu melupakan masa lalu.
Atau hanya aku yang menyesal, karena mengingat sebuah nama saja sulit. Apalagi
semua kejadian yang pernah kita lakukan bersama. Bukankah itu penting? Saat
seseorang ingin tersenyum, yang paling mudah adalah mengingat kenangan indah
itu. Bersyukurlah kalian, karena saat ku bermimpi, yang kudapatkan hanyalah
pecahan-pecahan kecil. Bagian dari memori yang hancur, dan dari semua itu,
pecahan yang paling besar, adalah memori buruk. Yang mensubjekkan seseorang.
Walau pertemuan itu hanya beberapa detik, mudah sekali menghancurkan sebuah
komitmen. Yang memang, kami pikir semuanya hanya sebatas dua insan. Seberapa
kuat komitmen, niat, jika memang sudah tertuliskan di lauh mahfudz.
Lalu, kembali gelap. Dan layar untuk kita, sudah tertutup. Bad ending.
Dan di pertemuan kedua, semua berubah. Ternyata, latar belakang dari semua
itu hanyalah sebuah reaksi dari penyesalan selama ini. Masa kelam dari
kehidupan sebelumnya, akhirnya aku mengerti semua ini. ada sedikit rasa
menyesal, kenapa aku tak bisa menjadi cahayamu, sebatang lilin yang rela
mengorbankan seluruh tubuhnya untuk menjadi setitik cahayamu. Akhirnya aku
menyerah, aku terlalu naif, egois, bukan
ini yang namanya Ukhuwah! Ia lebih berhasil daripada ini! karena semua
yang kita tanam akan kembali setelahnya. We building it up! To break it back
down! We can’t wait, to burn it to the ground! Terngiang sebuah
lirik, burn it down. Semua yang terjadi, semua yang kita lakukan,
semakin besar ikatan kita. Hanya untuk satu tujuan, merubuhkannya dan
mengembalikan kita kembali ke orang asing sebelum Lebih asing disaat belum
bertemu. Bahkan lebih asing dari seorang manusia yang melihat makhluk baru. Jarak
kita pun semakin jauh, bukan hanya jarak yang bisa dihitung dengan meteran.
Namun angka-angka yang tak bisa dihitung mewakili jauhnya hati ini. Ah, entah
kenapa aku pernah berpikiran seperti itu, menjadi orang lain.
Bukankah ia selalu ingin menjadi orang
sepertiku, seperti sifatku―gaya acuhku. Ah, semakin kupikirkan, semakin aku
membenci diriku yang lain, yang tega membuat jarak seperti itu. Tunggu,
bukankah memang ini yang kuinginkan selama ini. Menjauhkan mereka―bukan―menjauhkanmu
agar perasaan ini mati terkubur, terkubur jarak antara kita. Namun hasilnya?
Yang tercipta hanyalah rasa bersalah, entah apa hal yang terakhir aku lakukan
saat itu, disaat-saat terkahir mengambil sebuah keputusan. De ja vu?
Sepertinya aku mengenal rasa ini,campur aduk anara kekesalan, mungkin juga rasa
senang. Namun ada yang lebih endominasi, apakah itu? Kenapa muncul pertanyaan-pertanyaan
ini―haruskah aku kembali? Tkembali mekat dan meminta maaf? Maaf yang seharusnya
kukatakan sebelumnya, sebelum aku menjadi orang lain, lain dari idolamu yang
dulu, dulu sekali.
Aku pulang.
Ke masa lalu.
_Imperfect Harmonies
Selasa, 13 Mei 2014
Tanda Tanya
Apakah
arti dari semua ini, sebuah ujian, atau ajang mencari sebuah alasan. Dari semua
pendekatan, aku hanya menambah satu rasa. penyesalan, merasa bersalah
mendekatimu. Kau mungkin tak terganggu, tapi hatiku tak terlalu pintar
berbohong. Akhirnya, akulah yang harus menjauh, dan menjelaskan semua keadaan.
Saat mataku tertutupi debu keraguan, dan semakin menyesatkanku dalam hutan
belantara. Namun kuakui, kebencianlah yang mendominasi proses untuk menjauh.
Benci kepada argumen mereka, persepsi mereka, ketenangan mereka, dan
kediamanku. Pertama mungkin benar, hanya sebuah argumen (kembali kucoba untuk
tak menggunakan kata itu) diakhiri dengan sebuah fitnah, memaksaku kembali
membanting semua kepercayaan. Sebagian hilang, dan ketidakseriusan membuatnya
kembali duduk, kehilangan spontanitas. Simpel, aku ingin berdiri dan berani
menghadapi langit merah, memotong samudera masalah dalam hidup. Keinginan ini,
semakin lama semakin menjauh, iya, aku terlalu pintar berkata, membantah semua
logika dan mengedepankan sebuah prasangka. Kembali tak kumengerti apa yang ada
dalam pikirmu, persepsi dan ideologi yang sedang menjadi pondasimu. Semua ini
terhalang sebuah kaca hitam, yang kulihat, hanyalah bayanganku, kesalahanku.
Waktupun memecah bayangan itu, membaginya menjadi beberapa bagian, sebuah
bagian besar menancap di tubuh ini. Namun serpihan kecil justru menusuk mata
ini, melipatgandakan sakit yang ia berikan. Menambah kebencian untuk semua
pandangan, walau ia tak menuju kearahku. Aku butuh pengertian, lebih dari semua
yang sudah kuusahakan, aku membutuhkan sang pencipta kedamaian. Terpenjara,
kembali dalam logika-logika aneh, dalam sebuah variabel x dan y. Aku kembali
berbisik pada alam, dimana lagumu yang dulu? Dibandingkan dengan letupan sebuah
gunung, getaran-getaran angin yang berdesir. Bagaimana cara menuliskan sebuah
situasi, yang hanya kau rasakan. Karena semua variabel itu tak lebih dari
data-data yang meragukan. Haruskah aku percaya dengan semua yang tersirat
selama ini? Dan menyerahkan semuanya pada keadaan yang membingungkan ini.
Siapakah dirimu sebenarnya? Tokoh utama, atau hanya seorang figuran, seperti
kilat cahaya petir, sangat cepat. Bahkan aku tak pernah menyadari, ternyata ada
pandangan-pandangan gelap seseorang disana. Yang bahkan aku tak mampu
memprediksi datangnya. Dan untuk
itu, aku mempertaruhkan semuanya. Menuliskan setiap kejadian yang telah
terjadi, sembari mencoba mencari hubungan antara kejadian ini dan itu. Semakin
dalam, namun tetap kosong. Sehebat itukah kau menyembunyikannya, lagi, dibalik
senyum yang tak pernah terlihat kecuali hanya sebuah kilatan petir. Tanpa
suara, namun cepat tak terkejar bahkan oleh pandangan mata ini. Entahlah,
selama ini, kau hanya seperti matahari yang jelas―sangat jelas sinarnya, namun
tak pernah dapat kupandang. Terus menunggu kesempatan akan habisnya cahaya itu,
mengungkapkan semua kebenaran dibaliknya. Memang sedikit membingungkan, namun
semua data ini, jalinan yang kubuat berdasarkan fakta, hipotesis sementara yang
sedikit melegakan dan juga membuatku cukup khawatir, eksperimen-eksperimen yang
dilakukan untuk mendukung fakta (walau banyak yang tak berhasil), menganalisa
kembali data-data yang didapat. Semua yang telah dilakukan―yang kuusahakan.
Akan mengahsilkan sebuah jawaban untuk satu tanda itu.
_Imperfect Harmonies
Sumber Gambar : http://farm2.static.flickr.com/1413/924849406_3d4b9b2253.jpg?v=0
Langganan:
Postingan (Atom)
